Home » » TEGAL, KOTA KELAHIRAN KORPS MARINIR

TEGAL, KOTA KELAHIRAN KORPS MARINIR

Written By Media Rakyat on Sunday, 13 November 2016 | 11:46:00

TEGAL - (Media Rakayat). 12 November 2016, Pada dua hari belakangan ini, kita lihat sejumlah kendaraan truk yang mengangkut prajurit Korps Marinir hilir mudik di jalur Pantura Tegal-Pemalang. Kesibukan para prajurit berbaret ungu semata-mata bukan untuk show of force, melainkan sedang menggelar sejumlah kegiatan dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-71, pada 15 November 2016 mendatang.
Kegiatan ratusan para Marinir yang didatangkan dari markasnya di Jakarta tersebut yang utama adalah melaksanakan ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Jayana Sureng Yudha di Kabupaten Pemalang, Minggu (13/11/2016). Di TMP yang terletak di desa Penggarit ini tercatat ada sekitar 56 prajurit Korps Marinir yang dimakamkan di tempat ini. Uniknya hampir di setiap nisan para pendahulu Korps ini selalu tertera kata-kata CA IV yang merupakan kepanjangan dari Corps Armada IV.
Pasukan Korps Marinir saat menerima kunjungan Jokowi
Secara historis CA IV yang di dalamnya terdapat satuan Corps Mariniers (CM) atau sekarang yang kita kenal dengan sebutan Korps Marinir TNI AL pada mulanya lahir di kota Tegal. Kelahiran Korps Marinir atau Korps Baret Ungu di kota Tegal ini berawal dari situasi dan kondisi yang terjadi pasca Proklamasi 17 Agustus 1945 dari mulai terbentuknya badan-badan perjuangan, salah satunya Badan Keamanan Rakyat (BKR).  Saat itu, pembentukan badan ini merupakan hasil keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 22 Agustus 1945 tentang pembentukan tiga badan yang meliputi Komite Nasional Indonesia, Partai Nasional Indonesia dan Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP). Dalam lingkungan BPKKP inilah dibentuk suatu badan yang bernama BKR. Dari BKR ini selanjutnya dibentuk pula badan khusus yang melaksanakan tugas keamanan di pantai serta ketertiban di daerah pelabuhan yang disebut BKR Laut. Seiring dengan terbentuknya BKR Laut maka dibentuk pula BKR-BKR Laut di daerah, salah satunya BKR Laut Tegal.
BKR Laut Tegal dibentuk pada tanggal 30 September 1945. Sebagian besar anggotanya berasal dari pemuda pelaut, bekas guru dan murid SPT (Sekolah Pelayaran Tinggi), anggota Heiho, Kaigun Heiho, anggota PETA, pegawai pelabuhan, pegawai perikanan laut, pegawai rumah penjara serta anggota bea dan cukai. Setelah terbentuk mereka langsung mengadakan kegiatan antara lain melucuti senjata tentara Jepang, mengambil alih kapal yang ada di Pelabuhan Tegal dan bergerak aktif dalam KNI Tegal. Markas besar BKR Laut Tegal saat itu menempati gedung bekas jawatan pelabuhan.
Keberhasilan BKR Laut Tegal mengambil alih kendali kekuasaan dari tangan Jepang menjadikan BKR Laut Tegal saat itu terkenal dengan kemajuan armada lokalnya sehingga BKR Laut Pusat mempercayakannya untuk menyiapkan ekpedisi keluar Jawa yang pelaksanaannya dimulai pada awal 1946. Bukan hanya itu, karena memiliki organisasi yang nyata serta didukung kelengkapan persenjataan dan dukungan logistik yang kuat maka BKR Laut Tegal akhirnya diresmikan menjadi Resimen Tentara Keamanan Laut (TKR) Laut Tegal, mengacu kepada terbentuknya TKR pada 5 Oktober 1945..
Marinir dalam latihan pendaratan
Seiring dengan mulai berkembangnya TKR Laut Tegal, pada tanggal 14 hingga 18 Oktober 1945, terjadi pertempuran sengit di Semarang antara tentara Sekutu daru Divisi XXIII Inggris dengan pasukan Gurkhanya  di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Bethel melawan para pejuang kemerdekaan yang saat itu sedang berjuang melucuti persenjataan tentara Jepang. Pejuang dari BKR Laut Semarang adalah salah satu yang terlibat di dalamnya. Karena kalah persenjataan dan munisi, BKR Laut Semarang di bawah pimpinan Agoes Soebekti dan OB Sjaaf ini hijrah dan bergabung dengan TKR Laut Tegal. Pada saat yang bersamaan, TKR Laut Tegal juga menerima kedatangan 60 orang rombongan SPT dari Jakarta di bawah pimpinan Adam dan Ali Sadikin yang diperintahkan Laksamana Pardi yang saat itu menjabat Panglima ALRI untuk membantu memperkuat TKR Laut Tegal. Selain itu bergabung pula rombongan eks Marinir Belanda yang dikenal dengan sebutan Korps Mariniers dan eks KNIL dibawah pimpinan  Wakidjo dan Toekiran serta satu Batalyon ringan pemberontak pimpinan Hutapea, termasuk juga rombongan Para Pemuda Petjinta Bahari pimpinan J. Saminoe . Dan  masih banyak lagi, unsur-unsur kemiliteran dari daerah lain yang bergabung dengan TKR Laut Tegal, baik perorangan maupun rombongan.
Dengan bergabungnya beberapa satuan ke TKR Laut Tegal pada September, Oktober hingga awal November 1945, maka untuk menghadapi serangan tentara Sekutu/ Belanda yang sewaktu-waktu tiba, dilaksanakanlah konsolidasi kekuatan salah satunya dengan membentuk ALRI Pangkalan IV Tegal yang meliputi area operasi perbatasan Pekalongan-Semarang di sebelah timur dan perbatasan Losari-Cirebon di sebelah barat.  Kekuatan pasukan ALRI Pangkalan IV Tegal ini cukup besar di bawah pimpinan Panglima Kolonel Darwis Djamin, di dukung oleh satuan-satuan yang telah ada sebelumnya yaitu Corps Mariniers (CM), Corps Armada, Corps Navigasi, Corps MSD/ Teknik Mesin, Corps Kesehatan, Corps Administrasi, Corps PHB, Corps Penerangan, Corps Penerbangan dan Corps Polisi Tentara Laut.
Khusus untuk Corps Mariniers (CM) di dalam ALRI Pangkalan IV Tegal, organisasi ini sudah terbentuk pada akhir Oktober 1945 namun baru terawaki dan diresmikan pada tanggal 15 November 1945. Kekuatan yang dimiliki CM di bawah pimpinan Komandan CM Mayor Agoes Soebekti dan Wakil Komandan CM Kapten OB. Sjaaf saat itu cukup besar, terdiri dari lima batalyon yaitu Batalyon CM I di Tegal dengan Komandan Kapten  A. Djatmiko Legowo, Batalyon CM II di Brebes dengan Komandan Letnan Kusumo Sutanto P., Batalyon CM III di Kemantran, Tegal dengan Komandan Kapten Wiranto Suwono, Batalyon IV CM di Pekalongan dengan Komandan Kapten R. Suhadi dan Batalyon CM V di Kalibakung dengan Komandan Kapten Darono.
Sejalan dengan terbentuknya Sekolah Angkatan Laut (SAL) Tegal, Sekolah Opsir (Perwira AL) di Kalibakung, Pendidikan dan Latihan prajurit CM pun dilengkapi dengan didirikannya Depot Latihan CM di Tuwel yang khusus melatih Perwira CM dan pendidikan sekolah kader Bintara CM di Pagongan. Sedangkan untuk perlengkapan dan persenjataan secara bertahap juga diperhatikan dan dilengkapi.Pada tanggal 28 September 1946, CM dari ALRI Pangkalan IV Tegal mendapat pasokan perbekalan dan persenjataan cukup besar hasil selundupan dari Singapura terdiri dari 1600 pucuk senapan LE (Lee Enfield Mark I), 6 unit meriam penangkis serangan udara merk Orion, perlengkapan lapangan lengkap untuk satu resimen CM (termasuk alat-alat makan dan masak), satu perangkat kesehatan lapangan serta perlengkapan pakaian seragam lengkap dari sepatu hingga topi baja. Selain dari hasil selundupan dan membeli, pasukan CM juga memiliki 1 buah pabrik senjata yang terletak di Pagongan bagian selatan kota Tegal dan di Slawi. Sekalipun pabrik senjata ini masih dalam kondisi seder­hana, namun beberapa jenis senjata dan berbagai peralatannya sudah dapat dibuat, seperti misalnya senjata “Tekidanto”, mortir 81 mm laras peluncur terbuat dari pipa tiang listrik, berbagai senjata laras pendek jenis “Sten-gun”, granat tangan jenis gombyok, dan senjata tajam berbagai jenis.
Dengan organisasi CM yang telah terorganisasi dengan baik serta perlengkapan/ perbekalan dan persenjataan yang lengkap maka saat itu kesatuan CM ALRI Pangkalan IV Tegal menjadi salah satu kekuatan yang sangat diperhitungkan bukan saja di lingkungan ALRI, namun juga sangat diperhitungkan oleh tentara Sekutu/ Belanda. Pada saat Agresi Belanda I dan II, prajurit CM menjadi pasukan terdepan dalam setiap pertempuran mulai dari pertempuran yang terjadi di Sragi, Kalibakung, Bumijawa, Watukumpul dan pertempuran di daerah lainnya.
Pada 1948, Pangkalan-Pangkalan ALRI di Jawa direorganisi menjadi Corps Armada (CA) yang terdiri dari CA I s/d CA VI. ALRI Pangkalan IV Tegal sendiri berubah namanya menjadi CA IV yang berkedudukan di Pekalongan di bawah pimpinan Mayor R. Soehadi. Sedangkan untuk Marinirnya mengikuti perubahan ini dengan sebuta Corps Mariniers CA IV Tegal.
Pada tanggal 27 Juli 1948 berdasarkan Skep Menteri Pertahanan, kesatuan CM yang berada di bawah CA IV dibawahperintahkan (istilah sekarang BKO-Bawah Kendali Operasi)  Divisi Diponegara Angkatan Darat dan dijadikan Resimen 45 Divi Diponegoro dan dikenal dengan sebutan Resimen Samudra.  Secara administratif, Resimen Samudra ini di bawah Mabes ALRI Yogyakarta yang terdiri dari lima batalyon yaitu Batalyon 174 di Wonosobo, Batalyon 175 di Parakan, Batalyon 176 dan 177 di Temanggung serta Batalyon 178 yang berkedudukan di Rembang. Resimen Samudra ini bahu membahu berjuang dengan komponen kekuatan militer lainnya terutama pada saat menghadapi Agresi Belanda II.
Pada tanggal 9 Oktober  1948 berdasarkan keputusan Menteri Pertahanan Nomor A/565/1948, ditetapkan adanya Korps Komando (KKo) di lingkungan ALRI. Untuk melengkapi personel Korps Komando maka pasca persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB), Mabes ALRI mengadakan “selection board” untuk menjaring calon personel KKO yang dilaksanakan di Surabaya dengan peserta dari CM dari CA yang bermarkas di Jawa dan Pangkalan ALRI Sumatera. Dari hasil selection board untuk KKo tersebut, lulus dan diterima menjadi pasukan inti KKO AL kurang lebih 1200 orang yang ternyata 95% adalah personel eks Corps Mariniers CA IV Tegal. Kenyataan ini membuktikan bahwa personel CM CA IV Tegal merupakan embrio KKO AL yang selanjutnya berubah namanya menjadi Korps Marinir pada tahun 1975.
Lahirnya CM di tubuh ALRI Pangkalan IV Tegal pada tanggal 15 November 1945 selanjutnya juga ditetapkan sebagai Hari Lahir Korps Marinir. Hal ini sesuai dengan Keputusan Presiden / Panglima Tertinggi ABRI Ir. Soekarno Nomor : 342 tahun 1965 tanggal 12 November 1945 yang memutuskan dan menetapkan hari, tanggal dan tahun lahir/ berdirinya Korps Komando Angkatan Laut tanggal 15 November 1945. (TIM/MR/99)

IKLAN

Arsip Berita