Home » » TIDAK PERCAYA DENGAN HASIL RENDEMEN PETANI TEBU BENTUK PAGUYUBAN SENDIRI

TIDAK PERCAYA DENGAN HASIL RENDEMEN PETANI TEBU BENTUK PAGUYUBAN SENDIRI

Written By Media Rakyat on Wednesday, 30 October 2013 | 19:22:00

Paguyuban Petani Tebu Sari Bumi Manis Desa Surajaya.
PEMALANG (Media Rakyat). Paguyuban Tebu Rakyat Sari Bumi Manis (SBM) menggelar deklarasi paguyuban secara sederhana namun meriah dilapangan sepak bola Desa Surajaya Kecamatan Pemalang Rabu (30/10) yang dihadiri Kepala Desa Surajaya Wasno dan Masyarakat Petani Tebu Desa Surajaya. 
        Tebentuknya Paguyuban Tebu Rakyat (SBM) karna masyarakat petani tebu sekarang ini sudah tidak percaya lagi dengan Pabrik Gula (PG), karna semua aturan maupun pengukuran yang kaitannya rendemen dengan petani tebu dinilai tidak transparan, sehingga selama ini petani merasa dibodohi oleh pihak Pabrik Gula. 
       Untuk itu  para petani tebu membentuk paguyuban sendiri guna mengawal para petani tebu agar tidak lagi  dibodohi oleh PG minimalnya petani bisa tahu seberapa hasil rendemen yang sebenarnya. 
      Ketua Paguyuban SBM Walim menjelaskan kepada Wartawan bahwa terbentuknya Paguyuban tersebut dikarenakan dengan adanya paska panen dari tahun 2012 yang melalui  proses peraturan penebangan sepihak dengan berbagai alasan sehingga petani tebu merasa dirugikan, apalagi kalau terjadi kebakaran,  sudah jelas petani merasa dirugikan sekali, sehingga  bersepakat untuk mendirikan Paguyuban Tebu Rakyat Sari Bumi Manis (SBM), khususnya Pemalang. “sedangkan tugas dari paguyuban ,apa bila nanti ,mengenai penanganan KPTRI selaku wadah dari Petani Tebu , agar melayani petani dengan sebaik-baiknya. Mengenai proses-proses yang berkaitan dengan petani . apalagi berkaitan dengan rendemen, suatu contoh untuk tahun kemaren rendemen yang bisa mencapai 7 untuk sekarang rendemen yang diperoleh hanya 4,05 sampai 6,08." paparnya.
        Para Petani tebu dalam mengelola sama seperti tahun sebelumnya namun hasilnya jauh dari yang harapkan, padahal dulu petani tebu sampai dapat penghargaan dari Presiden, semestinya untuk tahun ini minimalnya rendemennya mendekati seperti yang dulu ternyata sama saja. 
         Untuk itulah para petani tebu bersikukuh untuk membentuk Paguyuban bukan untuk membuat koreksi namun betul-betul untuk memperbaiki jaringan hubungan kemitraan itu supaya berjalan dengan baik. “ karena saat ini petani yang sewa itu sudah jelas akan rugi kalau sistemnya masih seperti ini, namun ketika petani yang punya lahan sendiri masih mending, hal tersebut dikarenakan dulu lahan yang satu hektar bisa menghasilkan 35 juta Rupiah tapi kalau sekarang hanya bisa mendapatkan 18 juta Rupiah.” Tegasnya. (heri).

OL : 30-10-2013.

IKLAN

 

Arsip Berita