Home » » TRADISI GUGUR GUNUNG DI MAKAM PADURAKSA JELANG RAMADHAN

TRADISI GUGUR GUNUNG DI MAKAM PADURAKSA JELANG RAMADHAN

Written By Media Rakyat on Tuesday, 9 July 2013 | 10:10:00

Warga saat melaksanakan tradisi Gugur Gunung di makam
PEMALANG  (Media Rakyat). Ratusan warga Kelurahan Paduraksa, Kecamatan Pemalang Kabupaten Pemalang berduyun-duyun tanpa terkecuali, sambil membawa peralatan yang dapat dipergunakan untuk membersihkan parit atau rumput, ke Makam Adi Layu yang berada di atas bukit kecil untuk menjalankan tradisi Gugur Gunung menjelang Ramadhan Minggu pagi (7/7/2013). 
      Acara yang dilaksanakan rutin tiap tahun itu ditandai dengan membersihkan makam secara masal,  dimulai pukul 06.00 WIB, tiap warga berangkat dari rumah membawa alat masing-masing seperti cangkul, golok, sapu dan lainnya menuju ke makam utama Adi Layu dan area makam tambahan di bawah bukit. Pada dua makam itu warga sama-sama bersemangat membersihkan tanah dari kotoran dedaunan yang kering. Kemudian dikumpulkan untuk dibakar. Mereka tidak memilih makam saudaranya sendiri, mereka yang berasal dari 34 RT dan 8 RW bersama-sama membersihkan seluruh area makam, terutama makam yang terletak dipinggir jalan , agar tidak kelihatan angker. 
       Lurah Paduraksa Oni Suryono yang ikut bersih-bersih di Makam Adi Layu mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tradisi yang dilaksanakan tiap tahun menjelang Ramadhan. Dirinya yang merupakan pejabat baru di kelurahan itu hanya mengikuti keinginan warga saja. ''Apalagi kegiatan seperti itu merupakan hal yang positif. Untuk mengingat mendiang orang tua, saudara dan para leluhur yang sudah meninggal, dan sebentar lagi menjelang lebaran banyak warga masyarakat yang kebetulan diluar kota pasti pada pulang kampong untuk kunjungi makam saudara atau orang tua yang sudah meninggal, kalau keadaan makam bersih tentu akan merasa nyaman dan kalau berdo’a akan semakin tenang,'' katanya.
    Penjaga makam Muji Slamet alias Tarna (49) mengatakan, di makam tersebut bersemayam tokoh-tokoh penting para leluhur Kabupaten Pemalang. Diantaranya Kiyai Sampar Angin, Mbah Tirta Wangsa, Mbah Krama dan Mbah Alang Alang. Makam dengan luas sekitar 2 hektar tersebut, menurut Tarna, sebelum tahun 2006 tidak ada penjaga atau yang mengelola. Makam dibiarkan ribun oleh rumput dan pepohonan. Kemudian dia mendapatkan bisikan hati untuk mengabdi mengelola makam. Sejak tahun itulah dia didaulat warga untuk mengelola kebersihan dan keamanannya. "Adapun masalah biaya kebersihan ditanggung oleh masyarakat sendiri. secara swadaya, dan kadang ada bebepa masyarakat yang kebetulan keluarganya di luar kota nitip pada saya untuk dibersihkan. Tradisi gugur gunung ini sudah tradisi dari jaman dulu. Setiap menjelang bulan puasa, sehingga masyarakat tidak usah disuruhpun punya kesadaran untuk bersih- bersih makam " Katanya. (heri)

OL : 09 Juli 2013.

IKLAN

Arsip Berita