Home » » Kemlu dan KKP Gelar Pelatihan Konservasi Bagi Negara Asia Pasifik

Kemlu dan KKP Gelar Pelatihan Konservasi Bagi Negara Asia Pasifik

Written By Media Rakyat on Wednesday, 5 June 2013 | 08:16:00

Tegal (Media Rakyat), Sebagai bagian dari dukungan Indonesia terhadap South-South Cooperation (Kerja Sama Selatan-Selatan) dan komitmen Indonesia untuk berperan dalam kancah pembangunan ekonomi masyarakat dunia, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyelenggarakan pelatihan internasional bagi negara-negara sahabat. Pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk aktif dalam pembentukan keseimbangan pembangunan ekonomi dengan memperkuat dan meningkatkan hubungan ekonomi negara-negara berkembang yang menjadi tujuan dari kerja sama Selatan-Selatan, hasil kerja sama Kemlu dengan Kementerian terkait. 
      Pada kesempatan ini Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (Ditjen IDP) Kemlu bekerja sama dengan Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menyelenggarakan International Training Program on Marine Protected Area Management Planning, tanggal 3-13 Juni 2013, di Tegal, Jawa Tengah. Kerja sama Kemlu dan KKP pada penyelenggaraan pelatihan ini bukanlah hal baru. Dalam lima tahun terakhir, Kemlu dan KKP telah menyelenggarakan 11 pelatihan internasional bagi SDM kelautan dan perikanan yang diikuti oleh 200 orang peserta dari 26 negara. 
      Ruang lingkup pelatihan terus dikembangkan. Semula pelatihan fokus di bidang penangkapan ikan dan budidaya, namun dua tahun ini ruang lingkup diperluas menjadi penanganan ikan pasca panen dan bahkan tahun ini dilaksanakan pelatihan yang bernuansa pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Pada pelatihan ini para peserta terdiri dari 10 orang dari kawasan Asia Pasific (Papua Nugini, Fiji, Kiribati, dan Timor Leste) serta 3 orang dari Indonesia (Sorong, Papua Barat), bertempat di Hotel Karlita Tegal dan Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Tegal. 
      Materi pelatihan adalah kombinasi materi MPA 101 dan MPA Planning Management milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) sebanyak 70 jam pembelajaran. Selain itu, dilakukan pula Field Trip di kawasan silvofisheries Tegalsari. Kegiatan Field trip ini merupakan praktek penyemaian dan penanaman bakau serta budidaya kepiting soka yang dilanjutkan dengan kunjungan ke pusat kerajinan Tegal.  Bertindak sebagai fasilitator pelatihan berasal dari Institut Pertanian Bogor; Conservation Indonesia; The Nature Conservancy; BPPP Tegal. Adapun narasumber pelatihan berasal dari Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Bakau Mulya dan P2MKP Griya Karya Tiara Kusuma. 
       Kepala BPSDM KP, Suseno Sukoyono, pada sambutannya saat membuka pelatihan, Selasa (4/6), di BPPP Tegal, mengatakan penentuan jenis pelatihan kali ini berdasarkan bentuk komitmen Indonesia untuk bersama-sama dengan negara sahabat di kawasan regional untuk meningkatkan pengembangan pengelolaan kawasan konservasi perairan. Hal ini tidak lepas dari posisi Indonesia yang mempelopori The Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) sebagai sebuah kerja sama yang diikuti enam negara (Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea, Philippines, Solomon Islands and Timor Leste) sejak tahun 2007. Selain itu, pertimbangan pemilihan jenis pelatihan juga berdasarkan komitmen KKP untuk melaksanakan pembangunan kelautan dan perikanan berkelanjutan dengan konsep blue economy. Presiden Susilo Bambang Yuhyono pada Rio+20 Summit Sidelines di Brazil Tahun 2012 berkomitmen untuk memperkuat upaya Indonesia guna membangun blue economy yang akan memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan di seluruh daerah laut dan pesisir. Ia menegaskan kembali kepemimpinan Indonesia pada CTI untuk kehidupan laut, keamanan pangan, dan perubahan iklim. Menurut Suseno konsep blue economy merupakan pembangunan berbasis sumberdaya kelautan dan perikanan yang dilandasi prinsip-prinsip peningkatan dan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan, efisiensi alam, tidak merusak lingkungan, peningkatkan pendapatan dan perluasan lapangan pekerjaan melalui pengembangan usaha dan investasi inovatif dan kreatif untuk kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan sosial. Pada kongres dunia blue economy di Madrid, Spanyol, bulan April lalu, Indonesia telah menyampaikan langkah-langkah yang telah dilakukan dalam kerangka blue economy, yang akan ditindaklanjuti dengan sinergi yang lebih luas bersama negara-negara lain yang juga memiliki komitment yang kuat dalam mengembangkan pembangunan yang berkelanjutan berbasis blue economy. Karenanya tak heran, komitmen Indonesia terhadap isu-isu konservasi sangatlah besar. 
      Salah satu target yang akan dicapai Indonesia adalah luas kawasan konservasi perairan seluas 20 juta ha pada tahun 2020, di mana pada tahun 2012 telah tercapai luas kawasan konservasi perairan seluas 15,78 juta ha. Sementara itu sampai dengan tahun 2014 diperlukan lebih dari 2.544 pengelola kawasan konservasi perairan yang terdiri dari Managerial Level, Middle Level, dan Ranger Level. Untuk memenuhi target pemenuhan SDM kommpeten tersebut, BPSDM KP telah menyelenggarakan serangkaian kegiatan pelatihan (MPA 101, EAFM, GIS, Tourism Guidance, Public Consultation, dsb) yang selama tiga tahun terakhir telah mencapai jumlah 981 peserta. Ia menambahkan, dalam rangka mempersiapkan SDM pengelola kawasan konservasi tersebut, KKP telah menyusun standar kompetensi khusus pada pekerjaan perencanaan pengelolaan kawasan konservasi perairan. 
      Standar ini selanjutnya menjadi sumbangsih kami yang juga dapat menjadi referensi bagi pengembangan kawasan konservasi perairan di kawasan regional. Suseno berharap pelatihan ini memberikan kesempatan peserta untuk belajar pengalaman Indonesia secara praktek mengenai manajemen fundamental dan perencanaan untuk daerah perlindungan laut. Ia juga berharap bahwa pelatihan ini akan memainkan peran penting sebagai forum untuk bertukar ide antara Indonesia dan peserta dari negara-negara sahabat untuk membangun sinergi dan kerjasama dalam pembangunan kelautan dan perikanan. “Saya percaya bahwa melalui fasilitas pelatihan yang tersedia serta fasilitator dan narasumber yang berpengalaman, para peserta akan memperoleh keterampilan dan pengalaman yang sangat berharga, jejaring yang kuat, serta dapat menerapkannya di negara masing-masing dan menularkan ilmunya pada masyarakat setempat” tambah Suseno.  (Humas BPSDM KP) 

OL : 5 Juni 2013.

IKLAN

 

Arsip Berita